Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya atas menjamurnya berita-berita bohong di sosial media dan media-media online hari ini. Runyamnya, ternyata banyak orang menelannya mentah-mentah. Sehari yang lalu, saya masih ingat bagaimana seorang kawan mengirim pesan berantai tentang meninggalnya BJ. Habibie padahal yang bersangkutan masih segar bugar, tadi pagi saya lihat bagaimana photo seorang kiai yang sedang melepas jenazah kemudian diberi caption sedang melepas demonstran ke Jakarta. Gilanya banyak orang meng-share. Banyak contoh-contoh lain tentang berita-berita bohong di sosial media dan media online yang bisa kita dapatkan.

Mencermati hal ini, saya jadi teringat seribu tahun yang silam di mana banyak terjadi fitnah dan berita bohong yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. banyak orang Islam membuat hadis Nabi untuk menjustifikasi perilaku sosial, politik, dan ekonomi mereka. Sehingga hal tersebut memunculkan keresahan para ulama sehingga mereka membuat sebuah metode penelitian hadis. Metode itu dibuat untuk dapat mengetahui apakah benar hadis tersebut berasal dari Nabi atau bukan. Hasilnya mencengangkan karena banyak dari hadis-hadis tersebut adalah hadis-hadis palsu yang dibuat dengan berbagai kepentingan alias disebut hadis maudu’. Metode penelitian hadis ini dikemudian hari dikenal dengan nama ilmu hadis dirayah atau ilmu mustalah al-hadis.

Maka dari itu, saya berpikir kenapa tidak pula kita pakai kecerdasan umat Islam dahulu itu untuk mencermati berita-berita bohong di sosial media dan media online belakangan ini? Toh, korbannya tidak terbatas masyarakat awam tapi juga mereka yang sebenarnya adalah insan akademia. Sehingga saya merasa penting untuk menyampaikan hal ini, siapa tahu bisa bermanfaat bagi masyarakat luas dalam menilai sebuah berita apakah benar atau tidak.

Baiklah sekarang kita mulai, untuk kritik berita sosial media dan media online, kita mulai dari sanad (penyampai) berita dan matan (isi) berita. Pertama, yang bisa kita lakukan sebagai pembaca adalah melihat siapa penyampai berita. Cara melihat ini bisa dibagi menjadi dua, jika perorangan, maka pastikan siapa yang menyampaikan. Jika dia sendiri maka kita lihat dulu apakah ia orang yang kredibel untuk menyampaikan hal tersebut. Kredibilitas ini dapat dibagi menjadi dua, pertama kredibilitas prilakunya dan kedua kredibilitas intelektualnya. Kredibilitas pelakunya ini adalah apakah ia pernah berbohong, jika pernah lalu bagaimana tingkat kebohongannya, apakah hanya sekali ataukah memang menjadi tabiatnya. Jika berbohong adalah tabiat atau karakternya maka berita darinya harus kita tolak. Jika ia pernah berbohong tapi tidak sering maka carilah berita dari sumber lain yang terpercaya, jika tidak ditemukan maka jangan diterima. Kedua, adalah kredibiltas intelektualnya, apakah ia orang yang bodoh ataukah pintar. Hal ini penting karena pada saat ini orang jujur itu tidak cukup, karena orang jujur sering kali dapat dimainkan oleh para penyebar berita bohong. Pintar yag saya maksud ini adalah apakah ia menerima mentah-mentah setiap berita yang ia dengar ataukah ia menyeleksi terlebih dahulu atau tidak. Pintar dalam pengertian ini tidaklah harus seseorang tersebut lulusan sarjana atau tidak. Karena lulusan sarjana belum tentu pintar. kredibilitas intelektual juga bisa berarti apakah ia orang yang paham atau ahli dalam bidang tersebut, jika ia bukan orang yang ahli di bidang tersebut maka berita tentang perkara tersebut layaklah kita pertanyakan.

Namun, jika berita itu dikeluarkan oleh media online, maka cobalah kritis dengan melihat siapa yang menjadi redaktur, siapa yang membiayai, dan siapa yang berada di belakang mereka. Hal ini perlu kita lakukan karena seringkali kepentingan ekonomi dan kepentingan pemodal harus dilayani. Jika memang media tersebut pernah menyiarkan berita bohong baik sengaja atau tidak, maka berhati-hatilah dengan media seperti ini. Jika memang media tersebut terbiasa berbicara kebencian dengan menframing sebuah peristiwa, maka sebaiknya berita seperti ini tidak dipercaya. Jika sebuah berita hasil dari copy paste, maka lihatlah sumbernya. Jika tidak ada sumbernya maka otomatis berita itu tertolak. Jika ada sumbernya maka silahkan lihat lagi tulisan di atas tentang sanad berita.

Kedua, tentang matan (isi) berita. Hal pertama yang harus kita pahami adalah membedakan antara fakta dan opini. Antara peristiwa dan anggapan. Misal, ada peristiwa orang tertabrak di jalan. Jelas itu peristiwanya, lalu dalam sebuah berita, ada yang memberitakan, “seorang pejalan kaki ditabrak dengan biadab”. Istilah biadab itu jelas opini. Misal lagi, terjadi perang di Suriah. Itu peristiwa. Tapi jika ada berita yang menyatakan, “Rezim Dajjal Suriah membunuh anak-anak di Suriah dengan kejam” itu jelas opini. Anak-anak Suriah misalnya memang ada yang terbunuh tapi apakah dibunuh oleh rezim Suriah jelas itu menjadi pertanyaan kita. Apakah rezim Suriah itu dajjal, jelas itu opini. Cara termudah untuk melakukan kritik isi adalah melihat berita sejenis dari sumber berbeda. Apakah berita itu disampaikan hanya oleh orang atau media itu ataukah menjadi berita yang diberitakan banyak media-media kredibel. Jika tidak, kemungkinan besarnya berita itu bohong. Hal seperti ini dalam ilmu hadis disebut dengan istilah ahad atau mutawatir. Cara selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah mengkroscek isi berita, jika berita itu berlawanan dengan berita pada umumnya maka berita seperti ini patut kita curigai, walau belum tentu berita tersebut bohong.

Paparan saya ini adalah paparan awal agar kita dapat membaca berita dengan kritis dan tidak terombang ambing dengan berita-berita yang bermunculan dan cenderung penuh dengan fitnah dan kebohongan. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s