Negara Indonesia vs Brand Khilafah

Posted: Mei 3, 2017 in Uncategorized
Tag:, ,

Dalam sebuah pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa saya di semester 2 di sebuah kampus negeri di Surabaya, saya memberikan pertanyaan yang kalau diindonesiakan kira-kira begini, “berdasarkan argumenmu,  apakah kamu setuju terhadap kelompok kelompok yang menginginkan berdirinya kembali sistem khilafah?” Dari 40-an mahasiswa tersebut sekitar 15 orang menyatakan setuju dan yang lain tidak. Jujur, saya agak kaget mendapatkan 15 jawaban yang setuju dengan kelompok yang mengusung khilafah. Tertarik untuk menelusuri lebih jauh, kemudian Saya adakan sesi wawancara terhadap 15 orang tersebut. Hasilnya, rata-rata adalah lulusan SMA, ada satu dua yang lulusan MA, dan ada satu yang lulusan pesantren tradisional di Jombang.

Saya tanya kepada mereka, kenapa kamus setuju dengan agenda khilafah yang mereka usung. Jawabannya ternyata banyak yang jawaban nostalgistik. Karena pada masa khilafah umat Islam dapat mencapai kejayaannya, korupsi tidak ada, shariah Islam ditegakkan, stabilitas tercipta dan keadilan terasa. Mendapati jawaban seperti itu saya menyatakan faktanya, fakta tentang huru hara politik masa khilafah, fakta bahwa banyak pula yang bertindak tidak sesuai nilai nilai Islam, dan fakta-fakta lainnya. Setelah saya paparkan faktanya kebanyakan mereka malah memberikan respon terkejut,  “loh iya tah, pak?”.

Saya tanya lagi, adakah dalil shariah yang menjelaskan tentang kewajiban menegakkan brand khilafah dalam al-Qur’an dan hadis?, untuk menjawab pertanyaan ini saya persilakan mereka untuk googling silahkan cari dalil-dalil kewajibannya, rata-rata dari mereka menemukan situs Hisbut Tahrir yang menyatakan dalilnya. Saya tanya adalah kata khilafah di ayat tersebut, mereka menjawab, “tidak ada, pak”. Lalu apa yang membuat mereka mengartikannya sebagai kewajiban menegakkan khilafah? Mereka menjawab, “ya tafsir mereka atas ayat tersebut, pak”. “Correct! Benar!”. Saya melanjutkan kembali, “nak, yang pasti benar itu adalah al-Qur’an tapi kalau yang namanya tafsir itu adalah cara mereka membaca makna yang tertuang menurut si penafsir berdasarkan ideologi dan wawasan yang dimilikinya”. “Jadi, pak?”, tanya mereka lagi. Saya minta mereka googling lagi, “coba googling kitab kitab tafsir berkenaan dengan ayat terkait!”. Mereka pun mengoogling, sampai pada satu titik mereka bilang, “iya ya, pak, ternyata tidak seperti yang mereka nyatakan”.

Saya lanjut kembali, “sekarang saya sampaikan padamu, yang wajib dalam Islam itu adalah menegakkan nilai -nilai Islam seperti keadilan, perlindungan, kejujuran, dan seterusnya”. “Tidak ada kewajiban harus memakai brand tertentu dalam Islam termasuk memakai brand khilafah untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s