Ramadhan Satu Minggu

Posted: Juni 14, 2017 in Uncategorized

Di Surabaya, hari pertama Ramadhan,  suasana bulan yang disucikan umat Islam ini sangat terasa. Masjid-masjid penuh bahkan meluber. Pada saat-saat seperti ini biasanya saya malas tarawih di masjid. Di samping karena tidak ada tempatnya, suasananya kadang terasa kurang mendukung untuk salat, too crowded!

Beberapa hari setelah Ramadhan, barulah saya ke masjid salat isha’ dan tarawih berjamaah. Suasana memang penuh cuma lebih stabil. Setelah memasuki minggu kedua, jamaah salat tarawih berkurang hingga 50%. Tempat yang ramai adalah tempat perbelanjaan alias mall. Tempat yang buruk kata Imam Ghazali terutama kalau kita ke pasar hanya untuk kepentingan konsumtif. Ah, rasanya malas sekali. Saya pribadi memang punya sedikit masalah dengan mall. Masalahnya adalah saya tidak suka pergi ke mal dan tak suka berlama-lama di dalamnya. 

15 hari Ramadhan, saya sengaja jalan-jalan siang bulan Ramadhan, warung warung kopi sudah pada buka, sebagian besar pakai penutup dan sebagian lainnya terang-terangan buka dan minum kopi. Tapi itu masih belum terlalu parah, karena yang parah adalah di mall, karena di sini tak ada penutup  baik tirai maupun penutup lainnya. Pernah suatu ketika saya membawa keponakan usia SD dan SMA main dan beli sepatu ke mall. Pesan saya satu kepada mereka, “jangan tergiur ya!”. Bau masakan memang sangat kuat di mal mal di Surabaya. Pilihannya memang akhirnya kami yang berpuasa lah yang harus menyingkir dari food court-food court tersebut. Tapi saya pribadi syukur alhamdulillah, tak banyak hal rintangan walaupun melihat orang makan dengan lahannya karena bagi saya itu enaknya hanya di beberapa senti meter lidah kita. Selebihnya tak ada.

Saya tidak menyalahkan mereka yang tidak berpuasa, saya tidak pula minta untuk dihormati, toh puasa itu adalah antara aku dan Tuhanku dan bukan antara aku dan mereka. 

Cuma memang, degradasinya terasa sekali. Sebuah cerita disampaikan oleh seorang penjual etnis China non Muslim di JMP, ” dulu saya pun ikut berpuasa sebagai bentuk penghormatan terhadap yang puasa. Lah, sekarang orang Islam nya malah yang tidak puasa. Ya sudah, saya sekarang jadi ikut biasa saja makan di siang hari bulan Ramadhan”.

Suasana ini sedikit berbeda saat saya pergi ke desa-desa di Jawa Timur, orang-orang masih menjalankan puasa dengan sangat taat. Bahkan kendi pun disembunyikan di dalam dapur tak terlihat oleh mata telanjang.

Kadang saya merasa bahwa bisa Jadi suatu saat saya harus menjadi orang asing yang sendirian melaksanakan puasa ini, tapi walau begitu semoga Allah memberiku kekuatan untuk melaksanakan perintahnya. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s