Muhammadiyah perokok dan NU- No Smoking

Posted: Agustus 2, 2017 in Cangkruan, pemikiran, Pitakonan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , , , , ,

Dalam keseharian, ada stereotype tentang orang NU dan Muhammadiyah. Orang NU dikenal sebagai tidak prosedural, santai, egaliter, dan suka merokok. Gambaran ini tidak seluruhnya benar karena di sebagian pesantren NU saat sekarang ini juga melarang rokok. Cuma point yang ingin saya sampaikan adalah orang NU tidak mau ribet urusan administrasi, apalagi hanya untuk ditemui orang-orang. Inilah kenapa para kiai di pesantren NU bisa ditemui kapanpun selama 24 jam. Yang penting sang kiai sedang tidak bepergian. Inilah kenapa saya lebih suka meneliti pesantren dari pada meneliti lembaga pendidikan modern. Apalagi jika lembaga pendidikannya bertitel sekolah internasional, maka untuk meneliti saja harus menyampaikan surat ijin penelitian, lalu menunggu jawaban satu, dua, tiga minggu bahkan hingga satu bulan. Itu pun kalau pimpinan sudah bilang tidak bisa maka ya tidak bisa. selesai!. Nah, hal ini tidak saya temukan di kebanyakan komunitas orang NU.

Pernah suatu kali saya hendak meneliti pesantren Buduran Sidoarjo. ketua pengurus pesantren memohon maaf tidak bisa menerima kehadiran saya sebagai peneliti karena menurutnya ia harus mempersiapkan ujian madrasah. Mendengar penolakan tersebut, saya langsung pergi ke Gus Abdus Salam dan madul kepada beliau bahwa saya ingin meneliti pesantren Buduran. Seketika, Gus Salam, demikian ia biasa disapa, memanggil sang ketua pengurus tadi dan bilang, “Mas Ihsan mau meneliti di sini. Tolong dibantu dan dilayani ya!” si ketua pengurus melihat saya sejenak dan kemudian ia menjawab, ‘inggeh, yai!’. Sempat geleng-geleng kepala pengurus ini melihat saya. Tapi selama seminggu dua minggu saya di sana. dia melayani saya dengan sangat baik.

Sebaliknya streotype orang Muhammadiyah itu cenderung administratif prosedural, kaku, dan tidak suka merokok. Streotype ini bisa kita lihat bagaimana hampir 99% sekolah Muhammadiyah tidak boleh merokok. Sistem administrasinya pun sudah mengikuti administrasi modern plus juga kalau mau janjian. Bagi orang pesantren yang bisa sak jek sak nyek harus tercapai, maka sering kali menemui tokoh Muhammadiyah sering menimbulkan rasa prustasi. Sangat-sangat prosedural.

Cuma selama bergaul dengan para tokoh kedua organisasi tersebut saya menemukan hal hal sebaliknya atau istilahnya ambivalence. Pak Malik, mantan ketua PP. Muhammadiyah, orangnya santai, kritis, dan perokok berat. bahasa lainnya, NU banget! Mengingatnya mengingatkan saya pada sosok dosen yang selalu berkata paijo kepada para mahasiswanya tak peduli mahasiswa strata satu, strata dua, atau program doktoral. Toha Hamim namanya. ia juga tercatat sebagai mantan kepala sekolah dasar di mana saya pernah belajar. Saya sekolah di SD KHM. Ghufron Faqih. dulu, sekolah ini adalah sekolah keren. Para pemimpinnya adalah tokoh-tokoh Islam di Jawa Timur, mulai Pak Toha Hamim sampai Masykur Hasyim, mantan ketua PPP dan mantan ketua Ika IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Di Muhammadiyah sendiri, karena profil Pak Malik Fadjar yang begitu kuat ini maka para orang Muhammadiyah yang perokok disebut Muhammadiyah Mazhab Malikiyah. Nah, kalau yang tidak mau merokok biasa disebut mazhab syafi’iyah (Syafi’i Ma’arif).

Nah, di sisi lain, dalam kultur orang orang NU, saya juga menemukan profil orang NU yang tidak merokok bahkan cenderung elergi dengan rokok. Kantin yang dulu bisa menjual rokok dilarangnya untuk menjual rokok lagi kepada mahasiswa pasca sarjana. Bukan hanya itu, dia yang sebenarnya sudah paham kultur orang Nu karena menjadi salah satu ketua tanfidz PBNU dan sekaligus ia adalah peneliti sosial. Sehingga melihat profilnya sebenarnya ia harus NU banget. Tapi kadang konsepsi tak sama dengan kenyataannya. Ia tidak merokok, cenderung prosedural, dan mengambil jarak dengan para santri mahasiswanya. Kalau begini, Ini namanya orang NU rada Muhammadiyah. Nama mazhab nya NU ala Muhammadiyah diniyah (Muhammadiyah din syamsuddin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s