Setelah era Inul Daratista dan Uut Permatasari membentuk gelombang pertama musik dangdut pasca reformasi yang menasional, sekarang kita disuguhkan pada era gelombang kedua musik dangdut Jawa Timur. Jika dahulu ada Inul Daratista dan Uut maka sekarang ada Via Vallen dan Nella Karisma.

Yang membedakan dua gelombang Dangdut ini adalah pada nilai yang coba dijual. Jika pada masa Inul yang dijual adalah goyang dangdut yang menjorok erotis (saat itu tubuh Inul masih samlohay dan belum kurus kering macam sekarang) maka nilai jual Via Vallen dan Nella Karisma adalah pada kualitas lagu yang dibawakan yang asyik di telinga. Maksudnya apa, jujur jika mendengarkan lagu Inul tanpa melihat videonya maka kita tidak atau susah menikmati lagunya, lain halnya dengan lagu Via Vallen dan Nella Karisma. Lagu-lagunya bahkan enak didengarkan melalui headset atau speaker active tanpa video atau gambar (ditunjang pula dengan wajah cantik kedua penyanyi ini. Setidaknya mereka berdua itu eye cathcing alias enak dipandang).

Perpaduan musik dangdut yang kental dengan bunyi kendangnya dipadukan dengan musik hip hop yang gaul membuat musik keduanya banyak diterima oleh generasi milenial. Saya mengetahui lagu keduanya malah bukan dari kawan-kawan para dosen atau mahasiswa tapi dari seorang kawan (asisten rumah tangga) di rumah bernama Jidan Bodjah Ragenah yang bekerja ikut ibunya, nah, dia ini sering bekerja di rumah dengan memakai headset dan sesekali bergoyang ambil pegang sapu. Saya yang penasaran akhirnya mengambil headset-nya untuk mendengarkan apa yang didengarkan. Eh, ternyata lagu Demmi dan Via Vallen.

Perkenalan saya yang kedua dengan gelombang kedua musik dangdut tersebut adalah di sebuah kampus  di Surabaya tempat saya mengajar, saat anak anak BEM menyetel kencang-kencang lagu Via Vallen, “Jarang Goyang” dan “Sayang”. Saya sampai beberapa kali komplen menghadapi kebisingan tersebut.

Saat saya ke Jakarta, saya kira saya akan terbebas dari the second wave of East Java dangdut tersebut, ternyata saya salah. Anak-anak di kos di Jakarta juga menyukai musik Via Vallen dan Nella Karisma. Sehingga menurut saya, saya sudah tidak bisa lari lagi dari fenomena gelombang musik dangdut kedua ini

Hal kedua yang membedakan kedua gelombang tersebut adalah pada pemakaian bahasa pada dua gelombang tersebut, jika pada masa Inul lebih mono bahasa; bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, maka pada gelombang kali ini Via dan Nella memakai dwi lingual atau bahkan tiga bahasa; Jawa, Indonesia, dan Inggris. Hingga akhirnya saya berkesimpulan, inilah gelombang kedua musik dangdut pasca Reformasi. Jadi wajar jika Gus Ipul menyewa mereka berdua untuk kampanye pemilihan gubernur daripada memilih nama-nama tenar seperti Rhoma Irama ataupun artis-artis dangdut “karbitan” Indosiar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s