Menyusuri Makam Pengarang Kitab Safina

Posted: Maret 30, 2018 in pemikiran, Sosial Kemasyarakatan, Tokoh, Trip, ziarah
Tag:, ,

Makam Pengarang Safina

Sejak lama saya ingin sekali pergi ke makam Syaikh Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Abdullah bin Sumair al-Hadromi, al-Batawi, seorang yang saya kenal namanya sejak saya masuk tsanawiyah di pesantren. Saya mengenalnya melalui kitab karangannya berjudul Safinatun Najah. Sebuah kitab kuning yang dipelajari hampir di semua pesantren di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan. Di pesantren saya sendiri, kitab ini adalah kitab wajib yang harus dipelajari oleh santri pemula. Saya mengaji kitab ini selama 3 (tiga) tahun selepas salat dhuhur di musallah pesantren. Entah, sudah berapa kali saya khatam belajar kitab ini. Dulu, saya sering kali tertidur saat mengaji kitab ini karena posisi mengaji bersila dan kitab saya taruh di tangan kiri. Tangan kanan untuk memaknai kitab. Kalau sudah letih, maka posisi mengaji saya akan berubah menjadi bersimpuh dan kitab berada di lantai. Posisi tangan kiri menyangga badan dan tangan kanan menulis. Dalam posisi terakhir inilah seorang santri termasuk saya sering kali tertidur :).

Saat saya memutuskan belajar di Jakarta. Sudah lama sekali saya ingin berziarah kepada pengarang kitab yang sangat berpengaruh pada diri saya dan pengarang kitab yang sering kali saya kirimi fatihah setiap menjelang membaca karyanya. keinginan itu baru terkabul tadi siang.

Berangkat dari Ciputat saya naik motor ke stasiun Pondok Ranji, dari Pondok Ranji saya naik KRL menuju Stasiun Tanah Abang. Dari Tanah Abang, Kami berbelok ke arah kanan menuju ke Blok B Tanah Abang. Tujuan kami adalah ke masjid Al-Makmur di mana makam Shaikh Salim berada. Kami memilih berjalan

kaki karena pada siang hari lalu lintas Tanah Abang sangat macet sehingga jalan kaki lebih cepat dibanding naik mobil ataupun motor. Sampailah kami ke sebuah masjid berwarna hijau berdiri megah dengan tetap mempertahankan ciri khas tradisionalitasnya.

 

Pak Iim

Kami masuk ke dalam masjid dan terus melaju ke arah belakang mihrab masjid untuk memastikan bahwa masjid yang kami tuju adalah masjid yang benar. Hal ini kami lakukan karena ada dua masjid bernama al-Makmur di sekitar Tanah Abang; di daerah Blok B dan di daerah Bendungan Hilir. Kami saat itu belum tahu benar, di masjid al-Makmur yang manakah, makam Shaikh lagendaris yang nama kitabnya selalu dikenang oleh para santri tersebut berada. Saat kami ke belakang mihrab. maka jelaslah bahwa makam tersebut benar adalah makam yang kami tuju. Hal itu dikuatkan oleh Pak Iim, Marbot Masjid yang menyatakan bahwa makan yang ada di hadapan kami adalah makam Shaikh Salim, pengarang Safinatun Najah. Menurutnya, banyak orang dari berbagai daerah ziarah ke tempat ini.

 

Kami pun layaknya para santri, mengucap salam kepada yang di dalam makam, mengiriminya hadiah Fatihah, membaca Yasin, tahlil, dan dilanjutkan dengan mendoakan Shaikh Salim. Ziarah kami selesai bersamaan dengan panggilan salat maghrib. Akhirnya, kami pamit dan menunaikan salat maghrib di masjid al-Makmur dengan para jamaah yang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s