Archive for the ‘Cangkruan’ Category


Setelah era Inul Daratista dan Uut Permatasari membentuk gelombang pertama musik dangdut pasca reformasi yang menasional, sekarang kita disuguhkan pada era gelombang kedua musik dangdut Jawa Timur. Jika dahulu ada Inul Daratista dan Uut maka sekarang ada Via Vallen dan Nella Karisma. (lebih…)

Iklan

Belakangan ini viral sambutan Habib Rizieq Syihab di pulau Madura yang tertulis:
أهلا و سهلا و مرحبا بقدومكم يا أسد الله و رسوله
Kalimat Ini menjadi pertentangan antara dua kubu masyarakat antara yang pro Rizieq Syihab dengan yang kontra. Yang pro menyatakan bahwa maksud kalimat tersebut adalah singa allah dan Singa RasulNya. Sedang yang kontra akan menyebutnya sebagai singa Allah dan RasulNya.
Lalu bagaimana ilmu nahwu memandang permasalahan tersebut. Bacaan lengkap أسد الله و رسوله adalah dengan melihat tanda baca pada akhir kalimat. Ilmu ini dalam fan ilmu nahwu disebut i’rab. Lalu bagaimana bacaan yang benar, maka kata rasul kedudukannya harus sama dengan kata Allah. Dalam kalimat ucapan selamat datang tersebut adalah, jika dibaca asadullahi warasuluhu maka artinya adalah singa Allah dan Rasul Allah. Mafhumnya adalah habib Riziq itu adalah singa Allah dan Menjadi Rasul Allah. (lebih…)


sleep-learningMalas, sifat ini mengasyikkan, melenakan, dan sering kali berbuah penyesalan di kemudian hari. Tapi tak ada satu orang pun yang tidak pernah mengalami rasa malas, semua dari kita pasti pernah mengalami perasaan ini. tatkala ini terjadi lalu apa yang bisa kita perbuat?

Malas itu sebenarnya adalah perpaduan antara rasa nyaman berdiam diri, masih ingin beristirahat dari segala kegiatan atau kegiatan tertentu, hingga karena merasa kurang memiliki motivasi untuk melakukan hal dimaksud. Tatkala hal ini menyerang lalu apa yang bisa kita perbuat? Untuk menjawab hal ini tentu kita harus menganalisis kenapa kita merasa malas. Ada dua faktor paling berpengaruh terhadap timbulnya rasa malas; fisik dan psikis. (lebih…)


Dalam keseharian, ada stereotype tentang orang NU dan Muhammadiyah. Orang NU dikenal sebagai tidak prosedural, santai, egaliter, dan suka merokok. Gambaran ini tidak seluruhnya benar karena di sebagian pesantren NU saat sekarang ini juga melarang rokok. Cuma point yang ingin saya sampaikan adalah orang NU tidak mau ribet urusan administrasi, apalagi hanya untuk ditemui orang-orang. Inilah kenapa para kiai di pesantren NU bisa ditemui kapanpun selama 24 jam. Yang penting sang kiai sedang tidak bepergian. Inilah kenapa saya lebih suka meneliti pesantren dari pada meneliti lembaga pendidikan modern. Apalagi jika lembaga pendidikannya bertitel sekolah internasional, maka untuk meneliti saja harus menyampaikan surat ijin penelitian, lalu menunggu jawaban satu, dua, tiga minggu bahkan hingga satu bulan. Itu pun kalau pimpinan sudah bilang tidak bisa maka ya tidak bisa. selesai!. Nah, hal ini tidak saya temukan di kebanyakan komunitas orang NU. (lebih…)


Tulisan ini didasarkan pada kesedihan saya atas fenomena dunia saat ini. Setelah kita dikagetkan dengan kemenangan kelompok ultra-nasionalis di Inggris dengan Brexit-nya, kita kemudian disuguhi oleh kemenangan mengejutkan Trump. Presiden Amerika saat ini yang semasa kampanyenya selalu memgkampanyekan eksklusifisme bangsa Amerika dan ketidaksenangan dia terhadap Islam. Di penjuru dunia lainnya,  Australia misalnya terdapat senator yang memainkan anti Islam untuk menaikkan popularitasnya, demikian juga dalam pemilu Prancis saat ini dimana salah satu kandidat memainkan isu Frexit mengikuti jejak Inggris.  (lebih…)


Dalam kesempatan jamuan makan malam di asrama kampus ANU (Australian National University) yang dihuni oleh para mahasiswa PhD, saya duduk dengan Souveek , Rommael, dan Suzan. Souveek adalah seorang warga negara India, Rommael warga Filipina, dan Suzan adalah orang Australia. Saya, Rommael, dan Souveek berkawan akrab, kami sering masak bareng dan berbagi makanan. Tapi dengan Suzan karena ia tinggal di lantai bawah, jadi saya tidak terlalu akrab dengannya hanya say hello saja jika bertemu. (lebih…)


Saya dibesarkan di keluarga patriarkal, keluarga dengan dominasi kaum laki-laki dalam fungsi-fungsi sosialnya. Saya dididik dalam nuansa Islam yang juga patriarkal. Islam memang tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, tapi cara para guru memperlakukan perempuan sangat patriarkal sekali. Saya juga hidup dalam kalangan kawan-kawan laki-laki patriarkal, mereka adalah orang-orang yang dididik dalam setting keluarga patriarkal dan didikan yang patriarkal sama seperti saya. Di keluarga saya, di lembaga pendidikan dimana saya belajar, dan di kawan-kawan dimana saya berteman, mereka punya seperangkat ide tentang perempuan baik-baik. Perempuan baik-baik biasanya dkategorikan dengan pakaiannya yang sopan, sikapnya yang lemah lembut, dan tidak merokok. (lebih…)