Archive for the ‘Cangkruan’ Category


Tulisan ini didasarkan pada kesedihan saya atas fenomena dunia saat ini. Setelah kita dikagetkan dengan kemenangan kelompok ultra-nasionalis di Inggris dengan Brexit-nya, kita kemudian disuguhi oleh kemenangan mengejutkan Trump. Presiden Amerika saat ini yang semasa kampanyenya selalu memgkampanyekan eksklusifisme bangsa Amerika dan ketidaksenangan dia terhadap Islam. Di penjuru dunia lainnya,  Australia misalnya terdapat senator yang memainkan anti Islam untuk menaikkan popularitasnya, demikian juga dalam pemilu Prancis saat ini dimana salah satu kandidat memainkan isu Frexit mengikuti jejak Inggris.  (lebih…)


Dalam kesempatan jamuan makan malam di asrama kampus ANU (Australian National University) yang dihuni oleh para mahasiswa PhD, saya duduk dengan Souveek , Rommael, dan Suzan. Souveek adalah seorang warga negara India, Rommael warga Filipina, dan Suzan adalah orang Australia. Saya, Rommael, dan Souveek berkawan akrab, kami sering masak bareng dan berbagi makanan. Tapi dengan Suzan karena ia tinggal di lantai bawah, jadi saya tidak terlalu akrab dengannya hanya say hello saja jika bertemu. (lebih…)


Saya dibesarkan di keluarga patriarkal, keluarga dengan dominasi kaum laki-laki dalam fungsi-fungsi sosialnya. Saya dididik dalam nuansa Islam yang juga patriarkal. Islam memang tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, tapi cara para guru memperlakukan perempuan sangat patriarkal sekali. Saya juga hidup dalam kalangan kawan-kawan laki-laki patriarkal, mereka adalah orang-orang yang dididik dalam setting keluarga patriarkal dan didikan yang patriarkal sama seperti saya. Di keluarga saya, di lembaga pendidikan dimana saya belajar, dan di kawan-kawan dimana saya berteman, mereka punya seperangkat ide tentang perempuan baik-baik. Perempuan baik-baik biasanya dkategorikan dengan pakaiannya yang sopan, sikapnya yang lemah lembut, dan tidak merokok. (lebih…)


Jumat 9 September 2016 saya menginjakkan kaki di masjid Turki Auburn Callipoli Sydney. Melihat masjid dengan banyak kubahnya dari kejauhan, saya langsung bilang ke kawan berkebangsaan Inggris bernama Steward bahwa itu adalah masjid berasitektur Turki. Steward bilang dia tak tahu tapi mungkin saja. Saya bilang ke dia bahwa saya sangat yakin. Dan benarlah bahwa sesampai tibanya di sana, masjid itu adalah masjid Turki. Seorang berperawakan sedang dan berusia sekitar 50 tahun menghampiriku dan kawan-kawan, ia memperkenalkan diri dengan nama Orgun, rambutnya telah memutih dan berjenggot putih rapi. Dia telah tinggal di Australia sejak tahun 1980-an diajak oleh orang tuanya yang hijrah ke Australia. Orgun menjelaskan panjang lebar tentang keberadaan komunitas Islam di Sydney, bagaimana kesulitan mereka melaksanakan salat berjamaah pada awal kali kedatangannya di Australia, para imigran Turki kemudian sumbangan untuk membangun masjid, para perempuan Turki kemudian juga menyumbang banggel atau gelang-gelang emas mereka untuk pembangunan masjid. Si Orgun bahkan mempraktikkan dengan gerakan tangannya seakan melepas gelang kemudian ditaruh di sebuah tempat untuk dipakai sebagai pembangunan masjid. Dia juga bercerita bagaimana marmer dan batu pualam didatangkan langsung dari Turki. (lebih…)


Beberapa hari ini atau mungkin sudah sekitar seminggu lebih, saya merasa bahwa saya tidak lagi produktif.  Tak ada tulisan serius yang saya hasilkan untuk disertasi saya dan tidak pula untuk bahan presentasi di seminar yang akan saya isi bulan depan di Sydney dan bulan depannya lagi di Marlbourne. Rasanya diri ini sangat malas sekali melakukan sesuatu. Semacam tak ada gairah. Jangankan untuk membaca dan menulis untuk bergerak pun malas. Selepas bangun tidur dan salat, saya terjebak untuk bersantai-santai di tempat tidur sambil bermain hape. Membuka aplikasi sosial media, mulai dari fesbuk, instagram, twitter, dan lain-lain. Saya suka mengupdate status atau sekedar berkomentar atas status kawan-kawan di fesbuk. Melihat komentar orang-orang di instagram saya sekaligus mencari gambar-gambar lucu. Berhari-hari saya merasa seprti itu. Berolahraga pun rasanya malas sekali. Akibatnya, kesehatan saya beberapa hari ini memburuk, perut rasanya mual dan kepala pening. Hingga satu titik, saya memutuskan untuk mengakhiri semua kemalasan ini. (lebih…)


orang Indonesia rasanya belum makan kalau belum makan nasi. Nah, itu jadi tantangan utama orang Indonesia saat tinggal di luar negeri, tak terkecuali saya. Cuma saya beruntung saat kecil dulu ibu berkata, “makan nasi itu di luar negeri jadi barang istimewa”. Ibu paham karena ia pernah tinggal di Mekkah selama 2 tahun. Saya tak pernah membayangkan jika ternyata nasi memang barang istimewa di negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia. Akan tetapi nama terakhir disebut nasi lebih mudah didapat walau harganya 4 kali lipat dibanding harga di Indonesia.  (lebih…)


saya dibesarkan dalam lingkungan dengan toilet jongkok. Di rumah ibu di Surabaya, toilet yang kami gunakan adalah toilet duduk, di desaku, kami biasa berak di jamban, yaitu toilet jongkok tanpa air. Orang lain menyebutnya jumbleng. Untuk cebok kami para lelali harus memegang “burung” kami menuju tempat air. “Burung” kami harus kami pegang agar tidak terkena sarung yang kami pakai. Dalam keyakinan kami, jika “burung” kami yang basah karena selesai kencing menyentuh sarung, maka sarung tersebut akan menjadi najis dan tidak bisa digunakan salat.
(lebih…)