Archive for the ‘Trip’ Category


Dalam kesempatan jamuan makan malam di asrama kampus ANU (Australian National University) yang dihuni oleh para mahasiswa PhD, saya duduk dengan Souveek , Rommael, dan Suzan. Souveek adalah seorang warga negara India, Rommael warga Filipina, dan Suzan adalah orang Australia. Saya, Rommael, dan Souveek berkawan akrab, kami sering masak bareng dan berbagi makanan. Tapi dengan Suzan karena ia tinggal di lantai bawah, jadi saya tidak terlalu akrab dengannya hanya say hello saja jika bertemu. (lebih…)

Iklan

Judul tulisan ini memang diilhami oleh kata bijak bestari di Indonesia “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Akan tetapi dalam tulisan kali ini saya hendak memakainya dalam kaitan saya sebagai pribadi dengan latar belakang seorang guru yang hidup di di kota-kota di Indonesia dan kota-kota lain di dunia, yang celakanya semua toilet kencingnya adalah didesain untuk kencing dengan berdiri. Curiculum vitae saya menyebutkan bahwa saya pernah menjadi guru karakter (di SAIMS), guru etika Islam (di SMP Jatiagung), dan guru (dosen) manajemen pendidikan Islam di STAI Al Fithrah. (lebih…)


Saya adalah penganut madhab Shafi’i, begitu pula keluarga saya dan rata-rata para guru saya. Penganut madhab Maliki mungkin hanya satu atau dua orang saja, termasuk penganut madhab Maliki yang berpengaruh terhadapku adalah Ustad Ihya’ Ulumuddin atau biasa dikenal dengan sebutan abi Ihya’ atau kiai Ihya’, pengasuh pesantren Pujon Malang yang dahulu rumahnya di dekat rumahku di Surabaya. (lebih…)


Jumat 9 September 2016 saya menginjakkan kaki di masjid Turki Auburn Callipoli Sydney. Melihat masjid dengan banyak kubahnya dari kejauhan, saya langsung bilang ke kawan berkebangsaan Inggris bernama Steward bahwa itu adalah masjid berasitektur Turki. Steward bilang dia tak tahu tapi mungkin saja. Saya bilang ke dia bahwa saya sangat yakin. Dan benarlah bahwa sesampai tibanya di sana, masjid itu adalah masjid Turki. Seorang berperawakan sedang dan berusia sekitar 50 tahun menghampiriku dan kawan-kawan, ia memperkenalkan diri dengan nama Orgun, rambutnya telah memutih dan berjenggot putih rapi. Dia telah tinggal di Australia sejak tahun 1980-an diajak oleh orang tuanya yang hijrah ke Australia. Orgun menjelaskan panjang lebar tentang keberadaan komunitas Islam di Sydney, bagaimana kesulitan mereka melaksanakan salat berjamaah pada awal kali kedatangannya di Australia, para imigran Turki kemudian sumbangan untuk membangun masjid, para perempuan Turki kemudian juga menyumbang banggel atau gelang-gelang emas mereka untuk pembangunan masjid. Si Orgun bahkan mempraktikkan dengan gerakan tangannya seakan melepas gelang kemudian ditaruh di sebuah tempat untuk dipakai sebagai pembangunan masjid. Dia juga bercerita bagaimana marmer dan batu pualam didatangkan langsung dari Turki. (lebih…)


Saya termasuk orang yang beruntung menjalani masa muda di banyak tempat di Indonesia, negeri sejuta etnis. Melalui masa remaja di pesantren Pamekasan, dan kemudian mengabdikan satu tahun dari masa muda di sebuah desa di Sumenep, bermain-main di pantai Camplong Sampang di lain hari, melalui banyak hari di sebuah desa di Bangkalan, menjalani beberapa bulan di Bojonegoro, berkawan dengan etnis Cina di Surabaya, dan mengenal kecantikan Sunda.
Yang paling berkesan tentu masa muda di Madura dan Surabaya karena di kedua tempat ini masa mudaku banyak dilalui. Saat di Sumenep dahulu, saya mengenal ekspresi cinta dari kawan-kawan sekitar. Anak-anak muda di Madura pada tahun 2000-an kala itu ekspresi rasa cintanya banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu India, dangdut, dan tentu saja kesenian asli Madura. Lagu yang disukai cenderrung mendayu-dayu. Cinta saat itu bagi mereka seperti ekspresi yang sulit dinyatakan karena budaya Madura yang Islami tidak mengenal kata pacaran. Bagi kaum tua, itu sesuatu yang patut untuk dilakukan. Akan tetapi anak muda tetaplah anak muda, ekspresi cinta menyembul tak dapat mereka sembunyikan, lagu-lagu mendayu-dayu kiranya menjadi penanda bagaimana mereka mengekspresikan cinta dalam diri mereka. Mulai dari lirikan mendalam dan malu-malu hingga memendam rasa, menghela nafas dalam-dalam seakan ingin mengungkapkan rasa cinta mendalam. Karena itulah mungkin lagu-lagu mendayu khas Madura menjadi penanda rasa cinta mereka. Jika sedikit nekat, tukar-menukar surat saat itu dilakukan dengan perantara (belum jaman hape). Kira-kira begitulah gaya ekspresi rasa cinta anak-anak muda etnis Madura kala itu. Saling melirik, saling memberi tanda, dan bersurat ria biasanya terjadi. Biasanya hubungan akan menjadi lebih serius saat si pemuda meminang si gadis. Cerita perempuan atau pemuda Madura yang dinikahkan juga membuat eskpresi mendayu-dayu dalam lagu-lagu Madura itu semakin menjadi-jadi. Budaya dijodohkan di Madura sampai tahun 2000-an masih sangat kuat, tapi mulai memudar saat menginjak 2005 sejak banyak pemberontakan terhadap sistem perjodohan ini (termasuk saya yang dahulu memberontak terhadap perjodohan orang tua:D ).

(lebih…)


Tiba di Autralia pada musim panas (summer) menjadikanku harus kerja keras untuk menyesuaikan diri. Malam pada musim panas di Australia sangat larut jika dibanding Indonesia. Magrib di bulan Februari ini ada di kisaran jam 8 malam. Isya’nya baru dimulai saat jam menunjukkan sekitar jam 9.30 malam. Siangnya lebih panjang. Karena subuh di sini sudah dimulai dari jam lima pagi hingga sekitar jam 6.30 pagi. Jika Anda adalah orang yang terbiasa beraktifitas selama sehari penuh, menunggu isya’ bisa jadi menjadi sebuah perjuangan sendiri. Karena jam 7 malam mata kita terkadang sudah mulai redup. Apalagi bagi kita yang biasa melaksanakan puasa senin kamis. Selain siang yang 3 jam lebih panjang. Udara di sini juga relatif lebih kering. Sehingga jika Anda adalah seorang guru atau orang yang aktif di luar ruangan, maka sebentar-sebentar bisa terasa haus. Tapi semuanya terserah kita yang penting puasa bukan berarti menjadikan kita tidak professional. Alasan keagamaan apapun tidak akan ditoleransi orang jika itu menghalangi profesionalitas Anda karena agama di sini adalah masalah private, dan masalah private bukan urusan orang lain. (lebih…)