Archive for the ‘Uncategorized’ Category


Bahasa Inggris sangat digalakkan,
Bahasa Arab katanya kampungan.

(Rhoma Irama)

Tulisan ini muncul saat Prof. Sukron Kamil, guru besar bahasa Arab di UIN Jakarta saat mengutip lirik lagu Rhoma Irama di atas yang ditulis oleh seorang kawan, Dr. Mauidlotun Nisa’ dalam sidang promosi doktoral nya di Sekolah Pascasarjana UIn Jakarta.

(lebih…)

Iklan

sleep-learningMalas, sifat ini mengasyikkan, melenakan, dan sering kali berbuah penyesalan di kemudian hari. Tapi tak ada satu orang pun yang tidak pernah mengalami rasa malas, semua dari kita pasti pernah mengalami perasaan ini. tatkala ini terjadi lalu apa yang bisa kita perbuat?

Malas itu sebenarnya adalah perpaduan antara rasa nyaman berdiam diri, masih ingin beristirahat dari segala kegiatan atau kegiatan tertentu, hingga karena merasa kurang memiliki motivasi untuk melakukan hal dimaksud. Tatkala hal ini menyerang lalu apa yang bisa kita perbuat? Untuk menjawab hal ini tentu kita harus menganalisis kenapa kita merasa malas. Ada dua faktor paling berpengaruh terhadap timbulnya rasa malas; fisik dan psikis. (lebih…)

Kereta Malam

Posted: Desember 12, 2017 in Uncategorized

Pernah sekali aku pergi, dari Jakarta ke Surabaya

Untuk menengok nenek di sana, mengendarai kereta malam

(Kereta Malam-Elvi Sukaesih)

Kereta malam, demikian lagu yang masyhur tatkala saya kecil. Awal kali naik kereta, ibu tercinta dan paman Gresik mengajakku ke Kota Malang di mana nenek berada. Sejak saat itu saya selalu menyukai kereta. Yang saya rasakan saat itu, kereta menawarkan sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan ketika saya naik bus, yaitu berlarian. (lebih…)


Di Surabaya, hari pertama Ramadhan,  suasana bulan yang disucikan umat Islam ini sangat terasa. Masjid-masjid penuh bahkan meluber. Pada saat-saat seperti ini biasanya saya malas tarawih di masjid. Di samping karena tidak ada tempatnya, suasananya kadang terasa kurang mendukung untuk salat, too crowded!

Beberapa hari setelah Ramadhan, barulah saya ke masjid salat isha’ dan tarawih berjamaah. Suasana memang penuh cuma lebih stabil. Setelah memasuki minggu kedua, jamaah salat tarawih berkurang hingga 50%. Tempat yang ramai adalah tempat perbelanjaan alias mall. Tempat yang buruk kata Imam Ghazali terutama kalau kita ke pasar hanya untuk kepentingan konsumtif. Ah, rasanya malas sekali. Saya pribadi memang punya sedikit masalah dengan mall. Masalahnya adalah saya tidak suka pergi ke mal dan tak suka berlama-lama di dalamnya.  (lebih…)


Dalam sebuah pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa saya di semester 2 di sebuah kampus negeri di Surabaya, saya memberikan pertanyaan yang kalau diindonesiakan kira-kira begini, “berdasarkan argumenmu,  apakah kamu setuju terhadap kelompok kelompok yang menginginkan berdirinya kembali sistem khilafah?” Dari 40-an mahasiswa tersebut sekitar 15 orang menyatakan setuju dan yang lain tidak. Jujur, saya agak kaget mendapatkan 15 jawaban yang setuju dengan kelompok yang mengusung khilafah. Tertarik untuk menelusuri lebih jauh, kemudian Saya adakan sesi wawancara terhadap 15 orang tersebut. Hasilnya, rata-rata adalah lulusan SMA, ada satu dua yang lulusan MA, dan ada satu yang lulusan pesantren tradisional di Jombang. (lebih…)


Tak layaknya seperti para raja lain di Sumenep yang dimakamkan di pemakaman raja-raja, Asta Tinggi (pekuburan Agung) yang terletak di utara kota Sumenep saat ini. Ada satu makam seorang raja yang tak ada di sana yaitu makam Raja Jokotole. Cerita tentang raja Jokotole ini menarik, ibunya adalah seorang putri raja yang dikenal dengan nama Potre Koneng (putri kuning). Sang putri ini dikenal sebagai putri yang cantik jelita, kulitnya kuning langsat dan berwajah indah. Dalam cerita Jokotole, konon putri ini bermimpi berhubungan badan melalui mimpi dengan seorang pemuda bernama Adi Poday, seorang perjaka, pengelana, dan petapa. Dalam ceritanya, mimpi itu terjadi saat Potre Koneng bertapa di Gunung Pajudan Sumenep dan Adi Poday di gunung Geger Bangkalan. Terlepas dari bagaimana cara Potre Koneng hamil, akhirnya karena malu, bayi Jokotole pun ia buang. Kisah sang putri dengan Adi Poday tidak berakhir dengan lahirnya Jokotole karena setelah Jokotole dibuang ternyata sang putri hamil lagi dengan pemuda yang sama dan sama dengan kehamilan pertama, bayi adik Jokotole bernama Agus Wedi tersebut akhirnya dibuang juga. (lebih…)


orang Indonesia rasanya belum makan kalau belum makan nasi. Nah, itu jadi tantangan utama orang Indonesia saat tinggal di luar negeri, tak terkecuali saya. Cuma saya beruntung saat kecil dulu ibu berkata, “makan nasi itu di luar negeri jadi barang istimewa”. Ibu paham karena ia pernah tinggal di Mekkah selama 2 tahun. Saya tak pernah membayangkan jika ternyata nasi memang barang istimewa di negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia. Akan tetapi nama terakhir disebut nasi lebih mudah didapat walau harganya 4 kali lipat dibanding harga di Indonesia.  (lebih…)