Archive for the ‘Uncategorized’ Category


Di Surabaya, hari pertama Ramadhan,  suasana bulan yang disucikan umat Islam ini sangat terasa. Masjid-masjid penuh bahkan meluber. Pada saat-saat seperti ini biasanya saya malas tarawih di masjid. Di samping karena tidak ada tempatnya, suasananya kadang terasa kurang mendukung untuk salat, too crowded!

Beberapa hari setelah Ramadhan, barulah saya ke masjid salat isha’ dan tarawih berjamaah. Suasana memang penuh cuma lebih stabil. Setelah memasuki minggu kedua, jamaah salat tarawih berkurang hingga 50%. Tempat yang ramai adalah tempat perbelanjaan alias mall. Tempat yang buruk kata Imam Ghazali terutama kalau kita ke pasar hanya untuk kepentingan konsumtif. Ah, rasanya malas sekali. Saya pribadi memang punya sedikit masalah dengan mall. Masalahnya adalah saya tidak suka pergi ke mal dan tak suka berlama-lama di dalamnya.  (lebih…)


Dalam sebuah pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa saya di semester 2 di sebuah kampus negeri di Surabaya, saya memberikan pertanyaan yang kalau diindonesiakan kira-kira begini, “berdasarkan argumenmu,  apakah kamu setuju terhadap kelompok kelompok yang menginginkan berdirinya kembali sistem khilafah?” Dari 40-an mahasiswa tersebut sekitar 15 orang menyatakan setuju dan yang lain tidak. Jujur, saya agak kaget mendapatkan 15 jawaban yang setuju dengan kelompok yang mengusung khilafah. Tertarik untuk menelusuri lebih jauh, kemudian Saya adakan sesi wawancara terhadap 15 orang tersebut. Hasilnya, rata-rata adalah lulusan SMA, ada satu dua yang lulusan MA, dan ada satu yang lulusan pesantren tradisional di Jombang. (lebih…)


Tak layaknya seperti para raja lain di Sumenep yang dimakamkan di pemakaman raja-raja, Asta Tinggi (pekuburan Agung) yang terletak di utara kota Sumenep saat ini. Ada satu makam seorang raja yang tak ada di sana yaitu makam Raja Jokotole. Cerita tentang raja Jokotole ini menarik, ibunya adalah seorang putri raja yang dikenal dengan nama Potre Koneng (putri kuning). Sang putri ini dikenal sebagai putri yang cantik jelita, kulitnya kuning langsat dan berwajah indah. Dalam cerita Jokotole, konon putri ini bermimpi berhubungan badan melalui mimpi dengan seorang pemuda bernama Adi Poday, seorang perjaka, pengelana, dan petapa. Dalam ceritanya, mimpi itu terjadi saat Potre Koneng bertapa di Gunung Pajudan Sumenep dan Adi Poday di gunung Geger Bangkalan. Terlepas dari bagaimana cara Potre Koneng hamil, akhirnya karena malu, bayi Jokotole pun ia buang. Kisah sang putri dengan Adi Poday tidak berakhir dengan lahirnya Jokotole karena setelah Jokotole dibuang ternyata sang putri hamil lagi dengan pemuda yang sama dan sama dengan kehamilan pertama, bayi adik Jokotole bernama Agus Wedi tersebut akhirnya dibuang juga. (lebih…)


orang Indonesia rasanya belum makan kalau belum makan nasi. Nah, itu jadi tantangan utama orang Indonesia saat tinggal di luar negeri, tak terkecuali saya. Cuma saya beruntung saat kecil dulu ibu berkata, “makan nasi itu di luar negeri jadi barang istimewa”. Ibu paham karena ia pernah tinggal di Mekkah selama 2 tahun. Saya tak pernah membayangkan jika ternyata nasi memang barang istimewa di negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia. Akan tetapi nama terakhir disebut nasi lebih mudah didapat walau harganya 4 kali lipat dibanding harga di Indonesia.  (lebih…)


saya dibesarkan dalam lingkungan dengan toilet jongkok. Di rumah ibu di Surabaya, toilet yang kami gunakan adalah toilet duduk, di desaku, kami biasa berak di jamban, yaitu toilet jongkok tanpa air. Orang lain menyebutnya jumbleng. Untuk cebok kami para lelali harus memegang “burung” kami menuju tempat air. “Burung” kami harus kami pegang agar tidak terkena sarung yang kami pakai. Dalam keyakinan kami, jika “burung” kami yang basah karena selesai kencing menyentuh sarung, maka sarung tersebut akan menjadi najis dan tidak bisa digunakan salat.
(lebih…)


Dulu saat aku kecil, ibu suka sekali membelikan aku dan adik adikku ceker ayam, sayap ayam, dan kepala ayam. Sempat aku bertanya kepadanya, “kenapa ibu tidak beli paha ayam atau dada ayam?” Saat itu ibu bilang, “sama saja. Malah enak ceker ayam, sayap ayam, (lebih…)


We hear many people discuss about niqab (cadar). In Indonesia, this costume is uncommon. Although we (Indonesia) are a moslem country. But in the past (since the kingdom era, colonialism, and until 1980’s) we didn’t wear niqab. Niqab is a contemporary phenomena in Indonesia. Niqab or cadar (Indonesia) it self is a veil or a material to close the around the face. This is worn by woman. In Arab, this is a common costume, but not in Southeast Asia. In Indonesia and Southeast Asia generally, our women only wear veil. They put the veil on their head/hair and slung to shoulder. (u can see at the picture 1) (lebih…)