Berdasar penelitian yang dilakukan pada 10 wanita di Kota Surabaya, dilakukan secara kualitatif dengan cara random sampling pada wanita muda usia SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi, dilakukan dalam kurun waktu empat tahun mengungkapkan sebuah fakta menarik bahwa wanita muda di Surabaya lebih mudah diajak bersenggama (Making Love) daripada diajak menikah.
Rincian hasil penelitian tersebut adalah berikut: enam wanita muda Surabaya mau diajak bersenggama dengan catatan jika terjadi apa-apa pasangannya mau bertanggung jawab, satu wanita mau diajak bersenggama dengan syaarat pasangannya berjanji dan berkomitmen menikahinya, dan tiga wanita Surabaya tidak mau diajak bersenggama, apapun yang terjadi sebelum pasangannya menikahinya secara sah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana semakin liberalnya padangan para wanita muda di Surabaya atas seksualitas dan menjadi bukti betapa secara moral keagamaan telah terjadi degradasi norma menjaga virginitas di tingkatan wanita muda Surabaya yang belum menikah. Hal ini juga menunjukkan bagaimana para wanita muda Surabaya juga sudah mulai bisa menerima perbuatan senggama di luar nikah (sex before married).
Hal lain yang terungkap dari penelitian ini adalah dari 10 wanita muda tersebut saat ditanyakan apakah mereka pernah menonton film BF, kesemuanya menjawab pernah. Saat ditanya darimana mereka mendapatkan pengetahuan seksualnya, mereka menjawab dari teman dan dari media. Media yang dimaksud adalah video, buku dan majalah. Poin lain adalah kenyataan bahwa mereka tidak pernah membicarakan masalah seksnya pada orang tuanya. Rinciannya, delapan orang mengatakan tidak dan tidak pernah, sedangkan sisanya mengatakan pernah.
Berdasar dari data tersebut mengindikasikan bagaimana persoalan seks yang tertutup membuat pengetahuan seksualitas para wanita muda tadi berkembang secara liar dan tidak terkendali. Mereka seakan-akan mempunyai dunia lain dengan norma yang lain yang disimpan rapat-rapat, sebuah dunia yang berbeda dari apa yang ditampakkan setiap harinya di hadapan masyarakat.
Dari itu, usulannya sebagai tindak lanjut atas hasil penelitian di atas adalah perlunya keterbukaan membicarakan masalah seksualitas pada para wanita muda oleh para orang tua, guru, dan tokoh masyarakat. Salah satu tujuannya adalah berupa target minimal adanya balancing atas pengetahuan masalah seksualitas secara sempurna, harapannya tentu tercapainya masyarakat madani yang taat pada norma-norma yang ada.
Yang patut menjadi garis besar, bahwa temuan ini tidak bisa untuk mengenelisir temuan. Akan tetapi dengan keadaan yang sama temuan ini bisa dipakai sebagai acuan.



45 tanggapan so far ↓
Pujangga Kesasar // Oktober 15, 2009 pada 5:09 pm |
Wah, jangan-jangan anda juga pernah ML diluar nikah ya? (sorry, kidding!)
Membaca uraian di atas, sya teringat kembali pada salah satu buku best-seller tulisan Iip Wijayanto, yang menguraikan betapa 93% dari mahasiswi Jogja juga pernah berhubungan seks di luar nikah! Bayangkan!
Tapi inilah hidup yng sebenrnya! Sebuah hasil konfrontasi dialektika hitam-putih yang sarat absurditas. Maka biarkan kompleksitas hidup berjalan beriringan dengan sempurna! Dan, di sinilah barangkali implementasi logika amar-ma’ruf menemukan momentumnya…
(Sepertinya, yang cocok untuk menjadi master “sosialisasi seks” adalah anda, Kang… Selamat berjuang!) Haha…
Pujangga Kesasar // Oktober 15, 2009 pada 5:15 pm |
Oya, ada yang ketinggalan, kang…
Blogku yang http://www.sejenak-kemudian.co.cc tolong dibacklink di blog ini dong!
Kalau bisa taruh aja di Blogroll-nya….
Ihsan Maulana // Oktober 15, 2009 pada 5:22 pm |
Alhamdulillah saya adalah orang yang menjaga keperjakaan.
baiklah, entar ku baca dulu blognya
jhon miono // Oktober 17, 2009 pada 7:19 am |
waduh gawat niih tu kan kota kelahiranku yahh, mudah2 han alloh melindungiku dari pengaruh pergaulan.
Mahyudin // Oktober 17, 2009 pada 8:27 am |
Wah benar2 dunia ini memang mau kiamat’AGAMA sduh tdk di hiraukan lagi’tidak malu apa meraka dengan tuhan
fadlan // Oktober 17, 2009 pada 9:23 am |
semakin liberal aja perempuan skrg.
mbahfa // Oktober 17, 2009 pada 12:34 pm |
Wah kalau baru sepuluh .saya rasa kurang falit
Prima // Oktober 17, 2009 pada 12:40 pm |
Memang itulah faktanya. Masa muda yg dipenuhi obsesi negatif. Harga diri jadi barang mahal dan langka. Semoga aku menemui jodoh yg bisa menjaga harga dirinya terhadap orang lain. Virginitas adalah harga diri cewek. Kecuali ada hal2 yg diluar dugaan, yg ga bisa dihindari. Tapi kalo dgn sengaja bertindak sebebas itu, malah akan menambah penyakit mental yg tambah parah. Masa depan yg semakin suram. Manusia perlu jaga diri dan hati.
seedkeeper // Oktober 18, 2009 pada 3:03 am |
10 orang ygdi jadikan sampel gk bisa men-generalisasikan warga surabaya bro… gak valid tuh,, masih banyak orang yg menjaga virginitasnya,,, jgn terpengaruh hal yg kayak ginilah … semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah SWT ke jalan yang benar…
adin // Oktober 18, 2009 pada 3:11 am |
10 orang apa bisa mewakili ratusan ribu orang? yang meneliti gak pernah belajar statistik kayaknya…jgn2 ini seperti yangdi lakukan Iip wijayanto..penelitiannya juga gak valid hanya untuk cari sensasi dan ketenaran aja..
indr@ // Oktober 18, 2009 pada 6:07 am |
woi jgn su’udzon dong.. masa iya sih??
Bodrox // Oktober 18, 2009 pada 8:53 am |
Itu efek negatif dari emansipasi mungkin kang. Arus informasi yang makin terbuka bagi kaum hawa memberi peluang mereka mempelajari dan mengenali ‘ilmu’ yang positif dan juga negatif…
Abdul Munif // Oktober 18, 2009 pada 9:37 am |
Sebagai ajang berlatih di bidang penelitian, hasil penelitian ini saya apresiasi. Namun menurut saya, si peneliti tidak perlu terburu-buru mempublikasikannya. Ada sejumlah kelemahan dalam penelitian ini antara lain inkonsistensi metodologis. Si peneliti mengaku menggunakan pendekatan kualitatif dengan sampel 10 orang perempuan, tetapi dia mencoba menggenaralisasikan temuannya untuk semua anggota populasi, yakni semua perempuan Surabaya. Ini tampak dari judul dan uraian-urainnya. Padahal, penelitian kualitatif tidak bisa digeneralisaikan.
Peneliti perlu belajar lagi tentang metodologi riset sosial.
prames // Oktober 18, 2009 pada 9:49 am |
gendeng…uripo nang alas ae nduk nduk…
Achmad // Oktober 18, 2009 pada 10:06 am |
Oalah, cuma 10 orang tok to? Paling itu ya hanya berlaku pada mereka saja, bukan pada umumnya Ning Suroboyo. Aku yakin jik akeh sing alim kok cak.
Baiknya ini untuk peringatan bagi orang tua, supaya hati2 menjaga anaknya, agar tak terjerumus godaan setan. Suwun.
Perkenalkan saya Achmad Fauzi di Bratang, Surabaya.
N.N. // Oktober 18, 2009 pada 12:13 pm |
Biarpun melalui sampling random,tpi keakuratannya blm bisa djadikan acuan,krn mngkn yg dijadikan samplenya wanita g bener.Untuk kaum Adam yg mendapati istrinya yg sdh tdk virgin,lbh baik jgn diteruskan krena bagaimanapun kesucian itu hal yg amat penting.Juga yg paling penting spaya wanita tdk merasa bhwa hal itu hanya HAL YG BIASA/LUMRAH dijaman skrng ini.
penuai // Oktober 18, 2009 pada 9:41 pm |
Belum tau dia…..saya juga sependapat dengan mas…sepertinya bukan hal yang luar biasa…dikalangan remaja itu sudah biasa…pengen tau lebih jauhhh lihat di http://www.penuai.wordpress.com
nurrahman18 // Oktober 18, 2009 pada 10:09 pm |
wah penelitiannya mash perlu dipertanyakan scr ilmiah dg detail…
syukriy // Oktober 18, 2009 pada 11:04 pm |
Penelitian dengan 10 orang sampel? Saya kira ini penelitian yang sangat tidak valid dan mengada-ada. Sebaiknya anda memahami terlebih dahulu metode ilmiah yang dipakai dalam sebuah penelitian dengan benar sehingga bisa menyebut ini sebagai penelitian.
Tentang benar tidaknya fakta yang anda ungkapkan, bahwa wanita lebih mudah diajak bersenggama daripada menikah, menurut saya hanya untuk membesar-besarkan masalah. Sebaiknya anda lakukan survey sebaliknya: berapa persen lelaki yang suka bersenggama tanpa perlu menikah? berapa persen lelaki yang mau bertanggungjawab setelah melakukan senggama dengan seorang wanita?
Saya kira lelaki lebih “rusak” daripada perempuan.
Mahesajenar // Oktober 19, 2009 pada 4:44 am |
Emang knyataanx kya gtu.. Ga mungkin jg klo surveix di lokalisasi
xo2 // Oktober 19, 2009 pada 5:01 am |
wajar lah …coz indonesia kan sesang dalam proses pengembangan diri menuju modern..jadi..free sex..its ok
irfan // Oktober 19, 2009 pada 6:10 am |
Variabel yang sempit, bukan dasar untuk mengambil kesimpulan. Sama dengan penelitian seorang mahasiswa di Kota G (Jawa), September 2009. Dia meneliti 30 siswi dari beberapa SMU/SMK, hasilnya 70% pernah ML. 10% dari 70% itu dah sampai intercourse (coitus). Kami anggap hasilnya juga kurang valid. Tapi itu bisa dijadikan sebagai gambaran, betapa bobroknya etika dan moral kita sebagai bangsa timur. Walaupun modern…free sex, NO WAY.
Trus obyeknya juga sepihak..kasihan wanita jadi pihak yang salah. Harusnya seorang pria menjadi pemimpin dan pelindung bagi wanita, bukan malah ngajak ML sembarangan..
Kucing Sniper // Oktober 19, 2009 pada 7:33 am |
Yang berkomentar masih menjaga keperjakaan ada 2 kemungkinannya :
1. Dia emang bener2 gak laku padahal benernya emang mupeng berat, karena nggak laku ntulah maka dia mengaku2 hebat bisa menjaga keperjakaan hehehe
2. Dia emang alim tapi nggak ada gadis yang mau dinikahi, makanya masih perjaka terus hahaha
Komentar diatas cuma kidding ya mas hehehe
omiyan // Oktober 19, 2009 pada 7:49 am |
inilah hidup efek dari kebebasan yang selam ini kita bangga banggakan…kitapun bagian dari pola hidup seperti ini….karena agama sengaja dijauhkand ari kehidupan bernegara..
ah..semoga ga menimpa anak anak kita kelak
andhika // Oktober 19, 2009 pada 11:53 am |
semakin brani aja ya anak jaman sekarang
untuk melakukan perbuatan yang terlarang?
ap g kasihan amortunya ya?
Tanyajawabbisnis (Blog) // Oktober 19, 2009 pada 4:47 pm |
Astagfirullah haladzimmmmm
Jituiklan // Oktober 19, 2009 pada 4:49 pm |
Mudah-mudahan kita dan keluarga kita terjaga dari semua itu. Aminnn Tanda-tanda dah mau kiamat neh
qarrobin // Oktober 19, 2009 pada 5:29 pm |
salam kenal salam persahabatan
kulilampu // Oktober 19, 2009 pada 5:46 pm |
Hemmmm…..valid ndak tuh????
catatan febri // Oktober 19, 2009 pada 11:55 pm |
kalau 10 itu gak valid. Mungkin diambil sampel 1 sma 1 sampel, 1 smp 5 sampel dan 20 sampel untuk 1 PT. kalau pakai metode ini pasti valid dan gak terbantahkan…..
catatan febri // Oktober 19, 2009 pada 11:57 pm |
Ada info menarik, bagi yang menginginkan search engine yang halal bebas hal-hal yang haram dan pornografi serta sangat dianjurkan untuk anak-anak kunjungi postingan saya HALALKAH SEARCH ENGINE ANDA
tiyoe // Oktober 20, 2009 pada 5:48 am |
wow surprised…
rank"s // Oktober 20, 2009 pada 6:32 am |
asiiiikkkkkkk,hohohohohohohoohohoho
bimo23 // Oktober 20, 2009 pada 9:26 am |
Mudah-mudahan penelitian ini ditindaklanjuti oleh pemkot surabaya. Ada dana kan di dinas terkait. Saya tunggu penelitian Anda!
agunghara@manohara.siksa // Oktober 20, 2009 pada 12:41 pm |
goblok pol
bola // Oktober 20, 2009 pada 5:49 pm |
wedew, main “bola” terus dunk, edun 10 dari calon istri 6 diantaranya gak perawan jadinya!!!
H.IMAM SAIFUDIN,SH // Oktober 20, 2009 pada 10:03 pm |
Mari Membeli Masa Depan
Banyak sekali diantara kita semua yang terjebak dalam lubang pengangguran.
Menyedihkan memang ketika kita berulang kali keluar masuk dari satu perusahaan keperusahaan lain namun hasilnya tepap sama,DITOLAK!!!.
Mungkin juga diantara kita berfikir kenapa untuk menempuh jenjang pendidikan yang tinggi membutuhkan biaya yang tidaklah sedikit,bahkan cenderung makin menjerat.
Sedangkan untuk memperolah pekerjaan yang layak baik di instansi pemerintah maupun perusahaan swasta selalu disyaratkan: MINIMAL D3 ata S1.
Salah siapa?!
Apakah anda ingin berubah?
Atau ingin selalu dijajah?
ANDA BUTUH IJAZAH UNTUK MELAMAR KERJA/MELANJUTKAN KULIAH/KENAIKAN JABATAN?!?!
-SMU:3.000.000
-D3:6.000.000
-S1:8.000.000
* AMAN, LEGAL, TERDAFTAR DIKOPERTIS, BISA UNTUK MASUK(PNS, TNI, POLRI).
JUGA MELAYANI PEMBUATAN SURAT SURAT PENTING SEPERTI:SIM, STNK, KTP, REKENING BANK, SURAT TANAH, AKTE KELAHIRAN.BPKB, N1, SURAT NIKAH, DLL.
SYARAT:KTP/SIM,FOTO BERWARNA DAN HITAM PUTIH,UNIVERSITAS YANG DITUJU,IPK YANG DIMINTA(MAX 3,50),TAHUN KELULUSAN YANG DIMINTA,ALAMAT PENGIRIMAN YANG DIMINTA.KIRIM KE:arief_gagah@yahoo.com
BERMINAT?
HUB:08887054873 / 085736927001.
(HANYA UNTUK YANG SERIUS SAJA)
Nb:Semua manusia berhak meiliki pekerjaan dan pendidikan yang layak,entah dari kalangan atas,menengah dan bawah.Maka dari itu kami ada untuk anda yang mebutuhkan ijazah atau surat-surat penting lainnya.
TERIMAKASIH
Seporette // Oktober 21, 2009 pada 1:47 am |
Wah, mesti hunting ke Surabaya ne … wkwkwk…kunthu kenthu !!!
@dee // Oktober 21, 2009 pada 3:39 am |
Kalo sampelnya cuma 10 orang, mungkin si Akang ini surveynya di gang dolly ya?….hihihi
Ihsan Maulana // Oktober 23, 2009 pada 3:24 am |
sebenarnya sy bigung mau ngasih komen apa atas tanggapan teman-teman. tp ada tiga hal yang hendak saya sampaikan
1. penelitian ini dilakukan tidak untuk mengeneralisir. tapi bisa diterapkan atas kasus yang sama
2. penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan fenomenologis
3. penelitian tidak dilakukan di Dolly, tapi salah satu sampelnya adalah siswi smp daerah Dolly
apapun hasil dan komentarnya. inilah kenyataan dunia kita sekarang
qarrobin // Oktober 23, 2009 pada 1:30 pm |
kalo kayak gini, pasti deh malaikat dan iblis yang ribut dan berperang, padahal mereka ga ngelakuinnya.
Kalo ga mau, jangan coba2 dekat kalo ga bisa mengarahkan energi alamiah yang mau berontak
Ihsan Maulana // Oktober 28, 2009 pada 7:24 am |
sy stj itu. jk g mau jgn coba-coba. Jika mau silahkan pikir masak-masak dulu. hehe
Aji // November 15, 2009 pada 11:07 am |
Woiiiiii, dimana2, kalo mau bikin sampel buat satu kota (wanita Surabaya), ga mungkin kalo pake 10 orang doang.
otak mesum ya gini ini. 10 orang, 4 taon, bisa jadi acuan? acuan pala lo? 10 orang, 4 taon, lo tiap setaon cuma ambil 2-3 sampel? mana valid tolol?
lo membuat pandangan orang buat wanita Surabaya menjadi sangat-sangat rendah. gw saranin lo apus hasil penelitian lo ini.
nOOb // November 15, 2009 pada 1:19 pm |
“apapun hasil dan komentarnya. inilah kenyataan dunia kita sekarang”
Hebat… kenyataan apa yang bisa disimpulkan kalo sampelnya cuma 10? Ngabisin 4 tahun lagi, buang2 waktu aja…ya walo harus diakui
Yang diteliti cuma wanita lagi. Kalo prianya diteliti juga (10 sampel juga dalam 4 tahun) pasti hasilnya 100%. Pria juga berperan loh bikin wanita ikutan jadi ga bener.
yoshiki21 // November 16, 2009 pada 4:12 am |
1. penelitian ini dilakukan tidak untuk mengeneralisir. tapi bisa diterapkan atas kasus yang sama
tidak mengeneralisir ? jelas2 dari judul yg diberikan udah membuktikan pengeneralisiran.
2. penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan fenomenologis
kualitatif-fenomenologis.
Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena.
coba lo jelasin cara pendekatan lo lbh detail.
3. penelitian tidak dilakukan di Dolly, tapi salah satu sampelnya adalah siswi smp daerah Dolly
kalopun lo ambil SELURUH pernyataan dari 1 smp, itu ga mewakili 1 KOTA ! hanya mewakili 1 smp.