Archive for the ‘Kitabe Cak’ Category


Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya atas menjamurnya berita-berita bohong di sosial media dan media-media online hari ini. Runyamnya, ternyata banyak orang menelannya mentah-mentah. Sehari yang lalu, saya masih ingat bagaimana seorang kawan mengirim pesan berantai tentang meninggalnya BJ. Habibie padahal yang bersangkutan masih segar bugar, tadi pagi saya lihat bagaimana photo seorang kiai yang sedang melepas jenazah kemudian diberi caption sedang melepas demonstran ke Jakarta. Gilanya banyak orang meng-share. Banyak contoh-contoh lain tentang berita-berita bohong di sosial media dan media online yang bisa kita dapatkan. (lebih…)


Judul tulisan ini memang diilhami oleh kata bijak bestari di Indonesia “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Akan tetapi dalam tulisan kali ini saya hendak memakainya dalam kaitan saya sebagai pribadi dengan latar belakang seorang guru yang hidup di di kota-kota di Indonesia dan kota-kota lain di dunia, yang celakanya semua toilet kencingnya adalah didesain untuk kencing dengan berdiri. Curiculum vitae saya menyebutkan bahwa saya pernah menjadi guru karakter (di SAIMS), guru etika Islam (di SMP Jatiagung), dan guru (dosen) manajemen pendidikan Islam di STAI Al Fithrah. (lebih…)


Hadis Menempelkan kaki di Shahih BukhariDi tahun 2013, saya pergi ke Amsterdam, Belanda. Di bandara Amsterdam, saya shalat berjamaah dengan kawan-kawan dari Indonesia di sebuah tempat yang disebut Prayer centre atau medition center. Kami shalat seperti kami biasa lakukan di Indonesia dengan cara shaf lurus tapi kaki dan pundak tidak menempel. Selesai shalat, seorang pegawai bandara yang baru shalat dan seorang keturunan Maroko (Maghrib) mendatangi saya. Dia menyatakan bahwa shalat saya salah. Dia menyatakan bahwa seharusnya shalat saya kakinya saling menempel dan begitu pula pundak kami. Ia menyatakan pendapatnya dalam bahasa Arab. Saat itu saya jawab pula dengan bahasa Arab yang saya dapat di pesantren dan sudah 80% lupa karena tidak terbiasa berbasa Arab. Karena saya tidak menguasai bahasa Arab, mau tidak mau dia mendominasi perdebatan kami. Dan saya kalah. Bukan karena saya tak tahu jawabannya tapi karena saya tidak tahu bagaimana cara menjawabnya dengan baik dan benar dalam bahasa Arab. (lebih…)


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

  1. إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ .2

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ .3

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ .4

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ .5

  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. 2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

(lebih…)


jujur tulisan ini dilatarbelakangi rasa sebel saya saat membaca disertasi seorang kawan bernama Mahrus As’ad (dosen STAIN Metro) yang mensifati paham jabariyah sebagai jumud, tidak kreatif, masa bodoh, dan tidak bergairah menghadapi kehidupan. Lebih lengkapnya berikut adalah tulisannya:

manusia fatalis (jabariyah) adalah manusia yang terlalu menonjolkan sikap pasrah berlebihan terhadap taqdir Allah, akibat kuatnya pengaruh teologi Jabariyah dari al-Asy’ari yang cenderung fatalistis, serta ajaran  tasawuf yang mengedepankan qana’ah secara pasif, yaitu sikap menerima taqdir Tuhan secara total, sehingga menyebabkan terabaikannya kemampuan dan ikhtiat manusia. Keyakinan ini pada gilirannya membawa manusia pada sikap berserah dan bergantung sepenuhnya pada kekuasaan mutlak Tuhan, nrimo, jumud, masa bodoh, tidak kreatif, tidak bergairah menghadapi kehidupan, dan mudah menyerah pada nasib (taqdir) yang secara determinan telah ditentukan Tuhan sebelumnya (Mahrus Mas’ud, 2008, 236)

(lebih…)


Syarat Poligami

Dulu, saya adalah pendukung monogami (beristri satu) dengan berbagai sebab dan alasannya. Kemudian setelah beberapa lama bergelut dengan pelaku poligami (beristri lebih dari satu), saya kemudian terpengaruh oleh gaya provokatif pelaku ini. Ungkapan bahwa kata mastna dalam al-Qur’an disebut terlebih dahulu menurut kaum pelaku poligami ini menandakan bahwa mastna lebih utama dibanding satu. Saat itupun secara diam-diam saya menyatakan setuju atas hal ini. Hingga suatu hari saya terlibat dalam sebuah diskusi santai setelah selesai mengajar, saat itu beberapa dosen sedang rehat untuk menuju jam kuliah kedua. Di sela-sela istirahat itu, para teman-teman kemudian membahas masalah Eyang Subur yang saat itu mewarnai hampir setiap hari televisi kita. Saat itu seorang habib, dhurriyah (anak keturunan) Rasulullah, yang sekaligus menjadi kawan saya di kampus tempat saya mengajar itu melontarkan peringatan menarik tentang poligami. Beliau menyampaikan bahwa poligami dalam Islam itu bukan tanpa syarat. Terdapat dua syarat bagi mereka yang ingin melakukan poligami. Pertama, al-‘adlu fil bayat (adil dalam masalah menginap). (lebih…)


Al-Junayd merupakan keturunan Persia, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tapi diperkirakan lahir pada tahun 210 H di kota Baghdad, sedangkan keluarganya sendiri berasal dari kota Nihawand, propinsi Jibal, Persia. Ayah Al-Junayd yaitu Muhammad ibn Al-Junayd Al-Qawariri meninggal dunia ketika Junayd masih kanak-kanak, selanjutnya Junayd kecil dipelihara oleh pamannya, Sari al-Saqati untuk kemudian diasuh dan dibesarkan hingga dewasa. Masa kecil Junayd jarang dibicarakan, namun diperkirakan ia dibesarkan dalam keluarga pedagang, bahkan ia kelak menjadi pedagang sutera di kota Baghdad.

Awal pendidikan al-Junayd dimulai dengan belajar ilmu pengetahuan agama pada pamannya sendiri, Sari al-Saqati, yang juga dikenal sebagai seorang sufi yang sangat luas ilmu pengetahuannya. Ketika usianya 20 tahun, al-Junayd mulai belajar hadits dan fiqh pada Abu Thawr, sorang faqih terkenal di Baghdad pada masa itu. Setelah mempelajari hadits dan fiqh, al-Junayd beralih menekuni tasawuf, sekalipun sebenarnya dia sudah mulai mengenal ajaran tasawuf sejak berumur 7 tahun di bawah bimbingan Sari al-Saqati. Selain itu Junayd kecil juga belajar sufisme dari siapa saja sehingga pengetahuan sufismenya semakin hari bertambah luas. Ketika dewasa bisa dibilang ilmu al-Junayd dalam sufisme telah cukup matang.

Al-Junayd adalah seorang sufi yang cerdas, memiliki pikiran cemerlang dan selalu cepat tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya di antara para sufi sangatlah terhormat, bahkan Sari al-Saqati sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya pada Sari al-Saqati, “Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tasawuf?” Sari al-Saqati menjawab, “Tentu saja dapat, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf al-Junayd itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai.”

Dalam kehidupan sehari-hari, al-Junayd memiliki sikap yang berbeda dari para sufi yang lain. Dimana dia tidak menjalani kehidupannya dengan menjauhi keduniawian, namun juga tidak hidup dalam kemewahan. Sebagai seorang sufi yang pedagang (wiraswasta/entrepreneur), al-Junayd selalu menyesuaikan kehidupannya dengan profesi itu. Meskipun kehidupannya dapat dikatakan kaya raya, sebagai sufi yang shalih, tidak pernah ia berlebihan dalam menggunakan hartanya untuk kehidupan sehari-hari. Al-Junayd memiliki pribadi yang menyenangkan, oleh karena itu dia banyak disukai oleh para sufi pada masanya, sehingga rumahnya selintas bagaikan tempat berkumpulnya para sufi. Namun demikian, al-Junayd sendiri tidak pernah mengeluh menghadapi itu, bahkan sebaliknya dia merasa senang dengan kunjungan mereka. Sehingga al-Junayd selalu menerima dan menjamu mereka sebaik mungkin.

Al-Junayd bukanlah orang radikal, sehingga sikapnya lebih cenderung kepada pemikiran salaf yang selalu menekankan bahwa ajaran tasawuf haruslah didasarkan pada al-Qur’an dan Hadits. Untuk membuktikan pernyataan tersebut, dia selalu berusaha menerapkan dan menjabarkannya pada semua ajaran tasawuf yang diberikannya. Sehingga kekaguman umat dan ulama syariat atas pandangan sikapnya terhadap tasawuf membuat ajaran tasawufnya dapat diterima di masyarakat. (lebih…)